19.9.10

Inikah yang dinamakan cinta ?

'suatu hal yang bila kuingat menjadi sebuah bencana bagi diriku. yaitu "dia"...
ya...hal itu adalah "dia"...'


pagi hari ini adalah hari yang paling cerah yang pernah aku lihat. sepertinya ini akan menjadi hari yang bagus untukku melepaskan penat dengan sahabatku, Rini. Kebetulan sedang libur kuliah sih.

namaku sabrina, aku kuliah di fakultas kedokteran Universitas Indonesia, aku anak tunggal yang lahir disebuah keluarga yang sangat harmonis, mama dan papa seperti baru saja menikah yang sebenarnya pernikahan mereka sudah dari 20 tahun yang lalu.

"halo rin, kamu dimana?" tanyaku dengan semangat
"aku dirumah ni, kenapa sab?" jawabnya lemah
"hmmp...gmana kalau kita hang out?" tanyaku lagi
"boleh, jemput aku ya? aku tunggu ni dirumah" jawabnya dengan semangat
"seep deh rin.."

rini, adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki, dia juga menuntut ilmu di fakultas yang sama denganku. Tak pernah terbayangkan memiliki seseorang yang selalu ada untukku seperti dia, yang jelas, dia sahabat yang hebat.

aku langsung bersiap-siap untuk hang out bersama rini, aku ambil kunci mobilku, sepatu vans ku dan berlari menuruni tangga.

"mau kemana lagi?" mamaku mengejutkanku dari dapur
"astaghfirullah,mama..!! aku mau jalan-jalan ma, bolehkan?" pintaku
"yauda, hati-hati dijalan ya anakku, jangan telat pulangnya" ujarnya
"oke mamaku" ujarku sambil mencium pipinya

*****

kuhidupkan mobilku, dan sejenak memanaskannya, sembari aku memikirkan tempat aku dan rini akan hang out nantinya. Terpikir olehku adalah tempat dimana aku dan kekasihku Roby sering mengunjunginya, yaitu taman bunga. Tempat yang sangat indah dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran serta cafe didalamnya. "akan sangat menyenangkan untuk pergi kesana bersama sahabat" pikirku.
tanpa panjang lebar aku langsung menjemput rini yang rumahnya tak jauh dari rumah ku. hanya sekitar 3km dari rumahku.

"ten...ten..ten.."
"cepet amat sab??" tanya rini
"iya dong, aku gak sabar mau nyeritain sesuatu sama kamu ni" ujarku
"waaah..pasti soal roby lagi ni" celotehnya
"ntar deh..." jawabku

menusuri jalan yang sangat ramai, sambil mendengarkan musik di radio lokal bersamanya, sangat menyenangkan. Rini adalah orang yang lumayan cerewet, dari tadi banyakan dia bicara dari pada aku, tapi hebatnya, semua kalimat yang ia keluarkan menjadi motivasi untukku, memberi semangat untukku untuk menjadi lebih baik, dan pastinya menghibur.
sampailah kami di taman bunga, tempat yang indah untuk curhat dari hati ke hati. tempatnya tidak terlalu ramai, mungkin karena orang-orang pada kerja, sekolah, atau ngampus kali ya??

"emang deh, kamu paling keren, tau aja aku lagi pengen banget kemari" ujar rini
"hehehe...tau dong, hari secerah ini emang enakan hang out disini kali" jawabku sambil tersenyum
"iya juga ya...uda ah, yang jelas aku gak sabar denger crita kamu" katanya

kami langsung mencari tempat yang pas di cafe taman bunga tersebut. dan memesan minuman untuk menemani kami di pagi ini.
aku mulai menceritakan semua yang ingin kuceritakan pada rini, yaitu tentang roby, kekasihku.
hmmp. Roby adalah teman sekampusku, dia tampan, tinggi, atletis, perfect lah kalau dimata cewek-cewek. Aku bisa berpacaran dengannya juga karna rini yang mengenalkan roby denganku, mereka teman satu SMP dulu. Dengan embel-embel cinta pandangan pertama, dia menelponku, dan aku meresponnya dengan harapan dia akan nyaman denganku, yah, kami akhirnya pacaran, sudah sekitar 6 bulan kami menjalani hari-hari bersama. Yang aku ingin ceritakan pada rini adalah masalahku dengan roby yg akhir-akhir ini aku sedikit muak dengan tingkahnya denganku, sudah 2 hari aku tidak berhubungan dengannya, aku tak tahu akan jadi apa hubungan kami nantinya, masalah ini berawal sejak aku dan roby bertengkar karena masalah kecil, salahku sih tapi aku tak menyangka ini akan menjadi masalah yang besar.

"hmmp, jadi gitu ya masalahnya? kamu uda ngomong baik-baik sama roby?" tanya rini
"uda banyak banget buih di mulut aku untuk minta maaf sama roby, dia tetep aja anggap aku gak ada" ujarku kesal
"yauda-yauda, ntar malam aku bakal telepon roby deh, aku ngomong sama dia tentang masalah kalian" ujar rini tegas
"iya, tolong usahakan ya rin??" pintaku dengan nada memelas
"akan kuusahakan kok." katanya sambil memegang pundakku

*****

Dan hal yang tak diharapkan terjadi, Roby dan teman-temannya datang ke taman bunga. aku dan rini terbelalak kaget, rasanya ingin sekali kami langsung cabut dari tempat itu tanpa terlihat oleh roby, tapi gak mungkin, karena dia duduk pas berseblahan dengan tempat aku parkir mobilku. Oh god, musibah apalagi ini.

"rin, gimana ni... aku gak mau dia tambah marah karena aku gak mengabarin dia kalau aku akan pergi denganmu" ujarku gemetaran
"uda gpp, alasannya banyak kok, bilang aja kalau kalian sedang marahan, makanya gak ngabarin, nah dia juga gak ngabarin kamu kan?" jawabnya yakin
"yah bener juga sih, doa aja supaya dia gak ngelirik kemari" kataku sambil melihat ke arah roby

dalam 2 menit kami diam, bicara berbisik-bisik, sambil sesekali melirik ke arah roby berharap dia tak melihat ke arah kami, ketakutan yang amat luar biasa tiba-tiba menghantuiku.
Ketika aku dan rini sedang berbicara, roby dengan tiba-tiba duduk di meja kami dengan tersenyum, jantungku berhenti sekitar 5 detik, tapi anehnya rini malah membalas senyum roby.

"sedang apa kalian disini?" tanya roby padaku
"kami hanya hang out kok, melepas penat. hehehe..." seolah tau keadaanku, rini memotong
"hmmp, melepas penat ya? penat karena masalah kita, iya sab??" roby membentakku tiba-tiba
"maksud kamu apa sih? kepedean amat jadi orang? udah, mending kamu balik aja kesana sama temen-temen kamu..!!" jawabku marah
"wow... berani-beraninya kamu ngebentak aku ya? oke, aku pergi dari sini, maaf mengganggu nona-nona." jawabnya sinis

dia beranjak dari kursi dan pergi dari meja kami, aku tak dapat lagi membendung air mataku dan langsung mengajak rini pulang, dan hang out ku pun hancur. Seolah tak kenal, aku langsung saja pulang melewati meja roby tanpa pamit, hatiku sudah terlanjur sakit, sifat cueknya membuatku ingin sekali mengakhiri hubungan ini, tapi aku tak bisa, banyak sekali kenangan indah bersamanya.
Rini mengendarai mobilku dengan sangat cepat, dia berharap kami sesegera mungkin sampai dirumahnya. Aku terus dan terus menangis mengingat sikap roby yang sangat kasar padaku, karena baru kali ini dia membentakku dengan suara yang lantang dan senyum sinisnya yang tak sanggup ku bayangkan.

"masuk dulu yuk sab, kamu gak boleh pulang, aku takut kamu kenapa-kenapa dijalan" ujar rini
"aku gpp kok, aku langsung pulang aja." ujarku sambil menghapus air mata
"kamu yakin? aku gak enak perasaan ni sab" mohonnya
"sangat-sangat yakin kok rin, kamu tenang aja ya?" ujarku meyakinkannya
"yauda...hati-hati dijalan ya? kalau uda nyampe, jgn lupa SMS aku." ujar rini
"pasti teman" jawabku lagi

Rini keluar dari mobil dan aku langsung mengambil alih stir mobilnya, sambil mlemparkan sebuah senyum aku langsung pergi. Dijalan, air mataku terus berlinang mengingat roby sampai aku gemetaran tak tertahan lagi. Awalnya saja dia manis, setelah kami berpacaran, ternyata dia orang yang kasar. saat itu aku bertekad tidak akan menghubunginya lagi, karena kali ini dia yang harus minta maaf padaku.
Dan tiba-tiba Handphone di tasku pun berbunyi, sambil terus menyetir aku coba meraih tasku yang terletak di jok belakang, tas itu terlalu jauh sehingga aku terpaksa melihat kebelakang, ntah siapa yang menelpon aku tidak tau, yg jelas hatiku berkata kalau telepon itu penting.

sewaktu aku memegang handphoneku dan kembali melihat kedepan, tiba-tiba 1 buat mobil truk berwarna hijau berkecepatan tinggi menabrak mobilku dari arah samping sebelah kanan, ya, itu tempat supir. Mobilku terpental sejauh 10 meter, aku masih sadar ketika itu, aku masih mendengar teriakan-teriakan orang di sekitar tempat kejadian. Karena aku tak tahan dan shok, aku akhirnya pingsan.

*****

"sab, sabrina... kamu sudah sadar nak?" suara mamaku sayup terdengar
"mama...sabrina kenapa? sabrina dimana?" aku bertanya dengan panik dan lemah
"kamu di RS, sayang...kamu kecelakaan dan kamu sudah tidur selama 3 hari" jawab mama menangis
"apa? 3 hari?" aku bertanya terkejut. "bantu aku duduk ma.." pintaku lagi

aku terdiam sejenak, sambil melihat ke arah mama. ntah kenapa, aku tak dapat merasakan kedua kakiku lagi, dan aku pun meminta ibu untuk membuka selimut yang menutupi setengah badanku.

"ma, tolong bukakan selimut ini" pintaku
"baik nak, tapi kamu yang tabah ya? ini adalah kehendak yang maha kuasa" ujar mama sambil menangis
"cepetan buka ma...!!" bentakku sambil menangis

Mama membuka selimut itu dengan perlahan, dan melihat ke arahku. inilah saat yang paling membuat Hatiku hancur, air mataku terus mengalir bak sungai, dan pandanganku tak terlepas dari kedua kakiku yang sudah tidak ada.

"ma, kaki aku mana?" tanyaku lemah
"kakimu terjepit, dan terpaksa di amputasi keduanya, nak..." jelas mama.
aku melihat kearah mama.
"terimalah nak ini bukan kemauan kita, tapi ini cobaan yang diberikan Allah untuk kamu" tambahnya
"mama...aku mau kakiku kembali, aku mau kakiku kembali mama, aku tidak mau begini, aku tidak mau menjadi cacat" aku berteriak sambil memeluk mama.
"tidak bisa nak, tak ada yang dapat mama lakukan untuk ini, maafkan mama" teriak mama

*****

Sudah 5 hari aku lewati dengan hanya duduk merenung di kasur RS, melihat kakiku yang hanya tinggal selutut, sesekali aku menangis dan disitu lah aku merasakan kesengsaraan dan kebencianku pada tuhan, mengapa ia tidak adil, kenapa harus aku yang ditimpa berbagai macam masalah mulai dari roby sampai aku harus kehilangan kakiku.
sudah 2 hari sejak aku sadar, Rini tak pernah datang menjengukku, begitu juga dengan roby. Apa mereka tak bisa menerima keadaanku begini? apa saat aku senang saja mereka ada?

"ma, rini dengan roby pernah kemari gak selama aku koma?" tanyaku pada mama
"ada nak, kedua kamu koma mereka berdua datang.." jawab mama "kenapa anakku?" tanyanya lagi
"gak kenapa-kenapa kok ma, aku kira mereka tak mau menerima keadaanku begini" jawabku menagis sambil tersenyum.
"sssstt...jangan berbicara seperti itu...mama yakin mereka tidak begitu..ya?" ujar mamaku menyemangatiku
"iya ma...maafkan sabrina ya udah buat mama dan papa kerepotan?" balasku
"anak mama ngomong apa sih" mama tertawa mendengar celotehku.

yah, sepertinya aku sudah mulai bisa terima keadaanku begini, dan aku mulai tidak lagi menyalahkan tuhan atas apa yang diberikan ini, mungkin ada hikmah dibalik ini semua.
7 hari aku di RS, mama dan papa terus menyemangatiku, ditambah dengan sanak saudara yang datang menjengukku, membuat aku makin percaya diri untuk terus menjalani hidup dengan keadaan begini.

"assalamualaikum..." rini datang mengetuk pintu
"walaikum salam" aku, mama dan papa serempak menjawab
"eh, nah rini...masuk nak..." ibuku mempersilakan rini
"iya buk,..oya, ini ada sedikit buah-buahan untuk sabrina" ujar rini

Rini berjalan ke arahku, sambil tersenyum

"gimana keadaan kamu?" tanyanya
"aku baik, tapi aku kecewa sama kamu rin, aku uda 4 hari sadar, tapi baru kali ini aku ngelihat kamu.." jawabku
"maaf sab...aku ada tugas dikampus, aku sibuk...maaf banget ya?" ujarnya
"hmmp...kamu terima kan keadaan aku begini?" tnyaku memelas
"yaiyalah sab, kamu ini ngomong apa sih, mau gmanapun kamu, kamu tu tetap sahabt aku" katanya
"makasih ya sobat?" ujarku sambil tersenyum
"sama-sama sayang" jawabnya

selama 3 hari aku di RS, aku selalu ditemani rini, disitu aku merasa kalau aku tak sendiri, masih ada sahabatku yang selalu ku banggakan menemaniku disaat begini.

*****

Akhirna aku keluar dari RS, dan kembali tinggal dirumahku lagi, home sweet home, hanya kata itu yang dapat aku katakan bila melihat rumah.
dengan ditemani rini yang mendorong kursi roda ku, aku memasuki rumah dan menuju ke ruang tamu. Sembari ibu membuatkan minuman, rini menyampaikan 1 pesan yang membuatku mengingat suatu hal yang sebenarnya tak ku harapkan.

"roby nitip surat sab..kamu mau kan?" katanya
"roby? hmmp, boleh, mana suratnya rin?" tanyaku
"nih..."

aku buka pelan-pelan surat tersebut, isinya :

"sayangku sabrina, maafkan aku bila selama ini mungkin dimatamu aku cuek, dan aku minta maaf atas segala kesalahanku padamu...yang perlu kamu ketahui bahwa, tak ada wanita lain di hatiku selain kamu.
aku cuek selama ini hanya karena aku ingin kamu lebih dewasa dalam mencintai seseorang,aku hanya ingin kau tau kalau mencintai itu tidak semudah yang kamu bayangkan. masalah kita tentang aku jalan sama cewek lain, dia hanyalah teman yang kamu sendiri kenal siapa dia. aku tau kamu cemburu, tapi disitulah kamu belajar dewasa dalam mencintai, mengapa kamu harus tampar aku didepan orang ramai? coba saja kamu ngomong baik-baik ke aku, gak gini jadinya.
lupakan masalah itu, aku uda maafin kamu kok... :)

1 hal lagi, jangan pernah minder dengan apa yang menimpa kamu, aku masi akan tetap mencintai kamu tanpa berkurang sedikitpun. maaf aku tidak hadir di saat kamu butuh, karena aku sedang diluar kota untuk beberapa hari. Kamu tenang aja, setelah aku kembali, aku akan ada buat kamu sperti dulu. ok?

sekian dulu surat dari aku, aku harap kamu bisa tabah dan masih menerima aku sebagai orang yang kamu sayang.

i love you, sabrina "

air mataku jatuh, jujur aku terharu dengan apa yang ditulis oleh roby dalam surat ini. aku tak menyangka kalau selama ini roby sangat mencintaiku.


-BERSAMBUNG-

Mp3 search

Masukan Nama Penyanyi - Judul Lagu

Free Download Mp3 Gratis